KunjungiLembar Pendahuluan ASKEP

ASKEP DENGAN RISIKO KETIDAKSEIMBANGAN ELEKTROLIT (D.0037)

DEFINISI

Berisiko mengalami perubahan kadar serum elektrolit.

FAKTOR RESIKO

  • Ketidakseimbangan cairan (mis. Dehidrasi dan intoksikasi air)
  • Kelebihan volume cairan
  • Gangguan mekanisme regulasi (mis. Diabetes)
  • Efek samping prosedur (mis. Pembedahan)
  • Diare
  • Muntah
  • Disfungsi ginjal
  • Disfungsi regulasi endokrin

OUTCOME

  • Keseimbangan Elektrolit  meningkat            L.03021

INTERVENSI KEPERAWATAN

A. PEMANTAUAN ELEKTROLIT (I.03122)

  1. Observasi
    • Identifkasi kemungkinan penyebab ketidakseimbangan elektrolit
    • Monitor kadar eletrolit serum
    • Monitor mual, muntah dan diare
    • Monitor kehilangan cairan, jika perlu
    • Monitor tanda dan gejala hypokalemia (mis. Kelemahan otot, interval QT memanjang, gelombang T datar atau terbalik, depresi segmen ST, gelombang U, kelelahan, parestesia, penurunan refleks, anoreksia, konstipasi, motilitas usus menurun, pusing, depresi pernapasan)
    • Monitor tanda dan gejala hyperkalemia (mis. Peka rangsang, gelisah, mual, munta, takikardia mengarah ke bradikardia, fibrilasi/takikardia ventrikel, gelombang T tinggi, gelombang P datar, kompleks QRS tumpul, blok jantung mengarah asistol)
    • Monitor tanda dan gejala hipontremia (mis. Disorientasi, otot berkedut, sakit kepala, membrane mukosa kering, hipotensi postural, kejang, letargi, penurunan kesadaran)
    • Monitor tanda dan gejala hypernatremia (mis. Haus, demam, mual, muntah, gelisah, peka rangsang, membrane mukosa kering, takikardia, hipotensi, letargi, konfusi, kejang)
    • Monitor tanda dan gejala hipokalsemia (mis. Peka rangsang, tanda IChvostekI [spasme otot wajah], tanda Trousseau [spasme karpal], kram otot, interval QT memanjang)
    • Monitor tanda dan gejala hiperkalsemia (mis. Nyeri tulang, haus, anoreksia, letargi, kelemahan otot, segmen QT memendek, gelombang T lebar, kompleks QRS lebar, interval PR memanjang)
    • Monitor tanda dan gejala hipomagnesemia (mis. Depresi pernapasan, apatis, tanda Chvostek, tanda Trousseau, konfusi, disritmia)
    • Monitor tanda dan gejala hipomagnesia (mis. Kelemahan otot, hiporefleks, bradikardia, depresi SSP, letargi, koma, depresi)
  2. Terapeutik
    • Atur interval waktu pemantauan sesuai dengan kondisi pasien
    • Dokumentasikan hasil pemantauan
  3. Edukasi
    • Jelaskan tujuan dan prosedur pemantauan
    • Informasikan hasil pemantauan, jika perlu

B. MANAJEMEN CAIRAN (I.03098)

  1. Observasi
    • Monitor status hidrasi ( mis, frek nadi, kekuatan nadi, akral, pengisian kapiler, kelembapan mukosa, turgor kulit, tekanan darah)
    • Monitor berat badan harian
    • Monitor hasil pemeriksaan laboratorium (mis. Hematokrit, Na, K, Cl, berat jenis urin , BUN)
    • Monitor status hemodinamik ( Mis. MAP, CVP, PCWP jika tersedia)
  2. Terapeutik
    1. Catat intake output dan hitung balans cairan dalam 24 jam
    2. Berikan  asupan cairan sesuai kebutuhan
    3. Berikan cairan intravena bila perlu
  3. Kolaborasi
    • Kolaborasi pemberian diuretik,  jika perlu

DAFTAR PUSTAKA

  • Tim Pokja SDKI DPP PPNI, (2016), Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI),  Edisi 1, Jakarta, Persatuan Perawat Indonesia
  • Tim Pokja SLKI DPP PPNI, (2018), Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI),  Edisi 1, Jakarta, Persatuan Perawat Indonesia
  • Tim Pokja SIKI DPP PPNI, (2018), Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI),  Edisi 1, Jakarta, Persatuan Perawat Indonesia

Incoming search terms:

  • askep teoritis cairan dan elektrolit
  • ketidakseimbangan volume cairan sdki
  • resiko ketidakseimbangan elektrolit
No Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *